Polemik SPMB Jalur Afirmasi di Yogyakarta: Data Tidak Sinkron, Siswa Terdampak
jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMA/SMK 2025 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diwarnai polemik serius terkait jalur afirmasi, yakni jalur khusus bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Masalah bermula dari pembaruan data warga miskin oleh Dinas Sosial (Dinsos) yang dilakukan saat proses pendaftaran SPMB masih berlangsung.
Akibatnya, sebanyak 139 siswa yang semula dinyatakan lolos jalur afirmasi mendadak didiskualifikasi karena data terbaru menyatakan mereka tidak lagi memenuhi syarat sebagai keluarga tidak mampu.
Kondisi ini memicu protes keras dari para wali murid karena banyak siswa terancam gagal masuk sekolah negeri setelah pendaftaran jalur afirmasi ditutup.
Setelah dua kali audiensi dan berbagai rapat, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY memutuskan 88 siswa tetap diterima di jalur afirmasi karena dapat menunjukkan dokumen pendukung yang sah.
Sedangkan 51 siswa lainnya dialihkan ke jalur khusus yang dibuka tanpa mengurangi kuota afirmasi. Disdikpora juga membuka kembali pendaftaran jalur afirmasi untuk mengisi sisa kuota yang kosong.
Selain masalah sinkronisasi data, Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY menemukan indikasi manipulasi dan data ganda dalam proses seleksi jalur afirmasi.
Ada kasus di mana satu NIK (Nomor Induk Kependudukan) tercatat aktif di dua wilayah berbeda dan beberapa pendaftar diduga menyalahgunakan jalur afirmasi meski berasal dari keluarga mampu.
Seleksi penerimaan murid baru di Yogyakarta menemui beragam persoalan. Ombudsman DIY turun tangan untuk memberi rekomendasi perbaikan sistem SPMB.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News