Wacana Menghapus Prodi Tak Relevan Dikritik, Kampus Bukan Sekadar Pabrik Tenaga Kerja
Okky membantah anggapan bahwa ilmu humaniora tidak relevan bagi industri. Sebaliknya, ia melihat bahasa dan budaya memiliki potensi ekonomi kreatif yang luar biasa jika dikelola dengan visi diplomasi yang tepat.
“Korea Selatan memiliki bargaining position karena promosi budayanya berhasil menjadi penyokong utama ekonomi negara. K-Pop adalah contoh konkret bagaimana kajian budaya menggerakkan roda ekonomi,” papar alumnus Hubungan Internasional UGM tersebut.
Lebih lanjut, Okky menekankan bahwa produk budaya Indonesia seharusnya mampu memperkuat posisi strategis negara di jalur perdagangan dunia.
Namun, tantangannya terletak pada bagaimana negara memfasilitasi distribusi dan promosi budaya tersebut secara luas, bukan justru membatasi ruang akademisnya.
Terkait dinamika bahasa, Okky juga menyoroti pentingnya fleksibilitas dalam pendidikan.
Ia berpendapat bahwa bahasa tidak seharusnya diatur secara kaku, melainkan harus terus merekam kosakata baru yang muncul dari perkembangan teknologi dan media sosial sebagai bagian dari kekayaan identitas bangsa. (ugm/mar3)
Akademisi dan praktisi mengkritis rencana pemerintah yang ingin menghapus prodi-prodi yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
Redaktur & Reporter : Januardi Husin
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News