Begini Hitung-hitungan Danantara Soal Manfaat PSEL di Jogja
“Walhi Yogyakarta menilai pembangunan PSEL masih belum menjadi solusi atas permasalahan sampah yang ada di Yogyakarta. Alih-alih menyelesaikan permasalahan sampah, terdapat potensi pencemaran udara," kata Elki dalam keterangannya kepada JPNN.
Menurut Elki, proyek waste to energy di Indonesia masih menggunakan metode insinerasi yang menghasilkan energi tidak sebanding dengan risiko kesehatannya. Pembakaran sampah dapat melepaskan dioksin dan furan, zat-zat beracun yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.
Walhi menyoroti beberapa kerentanan utama proyek PSEL. Pertama, ancaman degradasi lingkungan. Operasional PSEL memerlukan suplai air yang sangat besar. Rencana pengambilan air dari Sungai Oyo oleh PDAM dikhawatirkan akan memengaruhi kondisi air di wilayah sekitar.
Kedua, keterpaksaan kuota sampah. Pemda harus menjamin pasokan sampah hingga 1.000 ton per hari. Jika kuota tidak terpenuhi, Pemda harus membayar kompensasi.
“Walhi menilai target ini dipaksakan, apalagi melihat proyek ITF Bawuran sebelumnya yang belum optimal dan hanya mampu mengolah 25-30 ton per hari,” ujar Elki. (antara/jpnn)
Danantara sebagai pengelola proyek PSEL mengalkulasi bahwa pembangkit listrik dari sampah akan bisa memasok 15 ribu rumah.
Redaktur & Reporter : Januardi Husin
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News