Aksi Menolak Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Objek Penelitian
“Manusia dan spesies lain hidup bersama di dunia yang sama. Ketika monyet diekspor untuk eksperimen laboratorium dan mengalami rasa sakit yang sebenarnya tidak diperlukan, bagi saya ada harmoni yang hilang dalam hubungan manusia dengan spesies lain. Semua yang hidup berhak untuk hidup dan berada di habitatnya,” ujar Wanggi Hoed.
Sejumlah figur publik seperti Manohara Odelia, Luna Maya, Richard Kyle, dan Rachel Yosi serta jaringan internasional Asia for Animals Coalition turut menyuarakan desakan serupa.
Aksi unjuk rasa menolak ekspor monyet ekor panajng. Foto: Forum United For Primates
Dilema Konflik Pemukiman di Gunungkidul
Di sisi lain, persoalan Monyet Ekor Panjang memicu dilema di tingkat daerah.
Di Kabupaten Gunungkidul, DIY, sekitar 1.000 ekor primata meluas ke 80 kalurahan dan merusak ladang warga akibat krisis pakan di habitat asli mereka yang didominasi pohon jati.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan kawanan monyet terpaksa turun gunung karena hutan tidak menyediakan sumber pangan alami.
Mengingat status MEP sebagai satwa yang dilindungi, Pemkab Gunungkidul menyiapkan tiga langkah penanganan terukur tanpa merusak populasi.
Pemerintah daerah berencana untuk menyediakan pakan di titik kumpul tertentu untuk menahan pergerakan monyet ke pemukiman warga.
Organisasi perlindungan satwa di Indonesia menggelar aksi unjuk rasa untuk memprotes kebijakan ekspor monyet ekor panjang.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News