Limbah Pasir Kucing Sulit Terurai, Mahasiswa UGM Bikin Inovasi Baru dari Ampas Tebu
Bahan dasarnya bio degradable, yaitu menggunakan ampas tebu yang cepat terurai tanah dan minim debu.
Terdapat fitur antimikroba untuk menghambat perkembangan bakteri dan mengurangi risiko penularan infeksi dari feses.
Pasir berubah warna sesuai tingkat keasaman (pH) urine kucing untuk deteksi dini masalah saluran kemih.
Pasir Felyhart juga terintegrasi dengan situs web digital. Pemilik cukup memindai perubahan warna gumpalan pasir ke situs web Felyhart untuk mengetahui perkiraan nilai pH.
Dosen pendamping tim, drh. Madarina Wassisa, menekankan pentingnya menjaga higienitas pasir.
"Banyak penyakit yang penularannya berkaitan dengan kontaminasi feses. Dengan menjaga kebersihan pasir dan mengurangi kontaminasi, diharapkan rantai penularan penyakit dapat ditekan," ujarnya.
Manfaat pasir berbahan ampas tebu ini dirasakan langsung oleh pengguna. Kinar, salah satu pemilik kucing yang telah mencoba Felyhart, memuji performa penggumpalan pasir tersebut.
"Pasirnya bagus dan ternyata bisa menggumpal dengan baik. Gumpalan pasir Felyhart lebih kering sehingga lebih mudah dibersihkan," ungkap Kinar.
Berawal dari kegelisahan karena limbah pasir kucing yang sulit terurai, lima mahasiswa UGM ini menciptakan pasir kucing dari ampas tebu.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News