Akademisi UGM dan Walhi Ungkap Kegagalan Sistemik dalam Penanganan Karhutla

Senin, 07 September 2026 – 17:30 WIB
Akademisi UGM dan Walhi Ungkap Kegagalan Sistemik dalam Penanganan Karhutla - JPNN.com Jogja
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Foto: ANTARA/ HO- Humas OIKN

jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di Indonesia dinilai bukan lagi sekadar bencana alam biasa, melainkan bukti nyata kegagalan sistemik negara serta lemahnya pengawasan terhadap korporasi.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Mengapa Kebakaran Hutan dan Lahan Senantiasa Berulang?” di Fakultan Hukum Universitas Gadjah Mada pada Jumat (4/9).

Dosen Departemen Hukum Lingkungan UGM Totok Dwi Diantoro mengatakan karhutla merupakan bencana ekologi yang berkaitan erat dengan tanggung jawab negara dan kepatuhan pelaku usaha.

"Karhutla tidak sekadar menimbulkan dampak ekologi, tetapi juga dampak sosial, kesehatan, dan ekonomi yang tidak sedikit. Bahkan, persoalan reputasi dan integritas sebagai bagian dari komunitas internasional, khususnya di ASEAN, makin dipertanyakan," tutur Totok.

Pandangan senada disampaikan oleh Dosen Departemen Hukum Administrasi Negara UGM Hendry Julian Noor.

Ia menilai berulangnya karhutla menunjukkan minimnya pembelajaran pemerintah dalam mengantisipasi bencana tahunan.

Hendry secara khusus menyoroti cengkeraman oligarki lokal yang memperkeruh tata kelola sumber daya alam.

"Jaringan kekuasaan di daerah dapat berkelindan dengan kepentingan ekonomi sehingga pengawasan terhadap pengelolaan lahan menjadi persoalan yang sangat kompleks," ujar Hendry.

Karhutla di Kalimantan yang hampir terjadi setiap tahun menunjukkan kegagalan sistemik. Titik kebakaran banyak di area konsesi.
Facebook JPNN.com Jogja Twitter JPNN.com Jogja Pinterest JPNN.com Jogja Linkedin JPNN.com Jogja Flipboard JPNN.com Jogja Line JPNN.com Jogja JPNN.com Jogja
JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News