Faktor Pengontrol dan Pemicu Longsor, Tak Selalu Karena Hujan
jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Badan Geologi mengingatkan adanya potensi gerakan tanah tinggi yang dapat memicu bencana tanah longsor di 12 provinsi di Indonesia, meliputi Aceh, Bengkulu, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Papua Barat Daya, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Pemerintah daerah di wilayah-wilayah tersebut didorong untuk meningkatkan upaya mitigasi, terutama menjelang musim hujan.
Menanggapi potensi tersebut, Guru Besar Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Wahyu Wilopo menjelaskan bahwa longsor tidak semata-mata berkaitan dengan tingginya curah hujan.
Menurut dia, kondisi suatu lereng terlebih dahulu dipengaruhi oleh sejumlah faktor pengontrol yang menentukan tingkat kerawanannya sebelum suatu pemicu terjadi.
"Daerah yang rawan longsor, khususnya Jawa dan Sumatra, punya topografi sebagai daerah pegunungan," kata Wahyu Wilopo, Selasa (29/9).
Wahyu menjelaskan bahwa faktor pengontrol menentukan kondisi alam suatu wilayah sebelum bencana dapat terjadi.
Menurut dia, faktor pertama adalah kemiringan lereng. Topografi yang makin curam membuat kestabilan lereng menjadi lebih rendah sehingga lebih mudah mengalami pergerakan saat mendapat pemicu.
Kedua, kondisi tanah dan batuan. Material lereng yang telah lapuk atau memiliki lapisan tertentu cenderung lebih mudah bergerak dibandingkan batuan yang kompak serta keras.
Banyak wilayah di Indonesia yang rawan bencana longsor. Pakar UGM menegaskan longsor tidak selalu karena hujan.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News