Indonesia di Ambang Penumpukan Sampah

“Soal RIPS ini, ada yang belum, ada yang sedang, ada yang sudah kedaluwarsa,” ucapnya.
Selama ini pengelolaan sampah masih hanya sekadar mengumpulkan, angkut, dan buang. Hanya beberapa usaha dari masyarakat yang melakukan pemilahan di tingkat rumah tangga.
“Mestinya plastik dipisah, yang organik dipisah, yang anorganik juga dipisah. Akan tetapi, yang sering ditemui dikumpulin, dijadikan satu, terus diangkut lagi dan terus dibuang. Ini yang menjadikan TPA open dumping. Itu yang menjadi penuh”, terangnya.
Sedangkan dari aspek kelembagaan, dalam pengelolaan sampah di masing-masing daerah yang sering terjadi regulator merangkap operator. Hal tersebut menimbulkan permasalahan karena tidak adanya transparansi.
“Ini salah satu yang mungkin enggak pernah transparan. Seperti di Jogja, saya enggak tahu berapa retribusi sampah, mestinya bisa dihitung. Kalau retribusi itu dikelola dengan baik, bisa jadi ceritanya lain”, urainya.
Ketua Satgas Sampah UGM Luluk Lusiantoro mengatakan Indonesia harus mengakui sudah jauh terlambat dan tertinggal dari negara-negara maju dalam menangani persoalan sampah. Negara-negara maju sudah lama berbicara tentang konsep-konsep dan regulasi terkait lingkungan.
Sebagai dosen yang fokus pada persoalan sampah, ia mengingatkan ada tiga poin penting yang perlu di ingat dalam proses mengolah sampah.
Tiga poin yang mengadopsi ekonomi circular tersebut adalah Degrowth, Regenerate, and Educate. Lebih jauh ia menjelaskan, konsep degrowth mengubah model bisnis dan ekonomi yang lebih ramah lingkungan.
Indonesia di ambang penumpukan sampah yang bisa mencapai 82 juta ton per tahun hingga 2045. Banyak daerah yang tidak memiliki rencana pengelolaan sampah.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News