Akademisi Ini Ungkap Sisi Menakutkan dari Dunia Maya, Perundungan Siber yang Kian Masif
jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Kemudahan mengakses gawai ternyata berdampak negatif bagi sisi lain kehidupan masyarakat, terutama remaja.
Keakraban dengan gawai ini bisa menjadi masalah baru berupa perundungan siber atau cyberbullying
Menurut dosen Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Widya Mataram (UWM) Oktiva Anggraini, perundungan di dunia maya sebagai migrasi bentuk dari dunia nyata.
“Perundungan di dunia maya pada akhirnya bisa bermutasi lagi menjadi konflik dan kekerasan dalam dunia nyata,” kata dia dalam program pengabdian masyarakat di Kelurahan Prenggan, Kotagede, Yogyakarta pada Minggu (5/6).
Pandangan tersebut diperkuat dengan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bahwa frekuensi perundugan di media sosial masuk kategori masif.
Pada data 2019 itu tercatat sebanyak 49 persen dari 150 juta pengguna siber pernah mengalami perundungan.
“Artinya, pengguna siber yang mengalami perundungan sangat banyak,” sambungnya.
Fakta memprihatinkan lainnya adalah para korban cenderung mencari aman dengan memilih diam dan tidak melapor.
Dunia maya menyimpan sisi negatif berupa perundungan siber yang berdampak pada psikis, fisik dan psikososial remaja. Saatnya orang tua berperan.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News