Psikolog Ini Jelaskan Kenapa Siswi Bisa Histeris Saat Dipaksa Berjilbab
Terkait kasus yang menimpa seorang siswi di SMAN 1 Banguntapan, ia mengatakan perlu adanya pemeriksaan psikologis untuk mengetahui adanya trauma.
"Pentingnya melakukan pemeriksaan salah satunya adalah untuk mengetahui kondisi yang diciptakan pada saat menyarankan berjilbab. Apakah kondisi tersebut adalah kondisi yang yang tidak aman, penuh ancaman atau bahaya sehingga menimbulkan rasa tidak aman dan rasa tidak berdaya bagi siswa tersebut," jelasnya.
Jatu menambahkan bahwa pemicu trauma itu bisa saja berasal dari persitiwa yang lain yang membuatnya merasa tidak aman.
"Artinya kondisi saat adanya dugaan memakai jilbab menjadi pencetus dari permasalahan yang pernah dialami sebelumnya," ujarnya.
Untuk itu, ia berpendapat perlu memastikan hal ini dengan pemeriksaan psikologi. (mcr25/jpnn)
Psikolog UST Jatu Anggraeni menjelaskan bagaimana relasi kuasa guru dan murid bisa membuat siswi histeris saat dipaksa mengenakan jilbab.
Redaktur : Januardi Husin
Reporter : M. Syukron Fitriansyah
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jogja di Google News